tak ada yang abadi
•September 11, 2008 • Leave a CommentKunjungan Tak Terduga
•September 10, 2008 • 1 CommentWaktu saya kunjungan ke t4 salah seorang teman, saya menemukan ini. he he he…keren juga, bro! buat seorang yang lagi “gdubrak love”
CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh
MENCINTAI…
BUKANlah bagaimana kamu melupakan..
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN..
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan..
melainkan bagaimana kamu MENGERTI..
BUKANlah apa yang kamu lihat..
melainkan apa yang kamu RASAKAN..
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan..
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN..
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati…
dibandingkan menangis tersedu2…
Air mata yang keluar dapat dihapus..
sementara air mata yang tersembunyi
menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang..
Akan tiba saatnya
di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN
karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN
karena kita menyadari
bahwa orang itu akan lebih berbahagia,
apabila kita melepaskannya.
Apabila kamu benar2 mencintai seseorang,
jangan lepaskan dia..
jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu
benar2 mencintai
MELAINKAN…BERJUANGLAH demi cintamu
Itulah CINTA SEJATI
…sahara…
•September 6, 2008 • Leave a CommentAku mengembara sendiri di atas pasir sahara tak bertepi. Menjerit spanjang hari dan menari menantang matahari. Berharap sosok dalam bayangan gulita hadir di antara tumpukan pasir. Aku rindu pada pagi-pagi ku, aku rindu pada terompah kayu di pelataran kiblatku. Aku rindu pada kalian semua yang menatiku di kedalamam samudera terdalam. Aku ingin pulang, kasihku. Aku masih berharap tak mati dalam pegembaraan ini tuk menemuimu.
Alamat e-mail surat kabar
•September 1, 2008 • 1 CommentBuat temen-temen yang suka ngomentarin berita, sok atuh mangga kalo berani, kirim surat pembaca atau opini ke media nasional. Kita warnai opini nasional dengan isu-isu syariah dan khilafah!
2. sumedi_tp@yahoo.com (SuaraPembaruan)
4. sriwijayapost@yahoo.com (Palembang)
5. hariansinggalang@yahoo.co.id (Padang)
6. redaksi@solopos.net (Harian Solopos, Solo)
7. redaksi@pikiran-rakyat.co.id (Bandung)
9. redaksi@hariansib.com (Sinar Indonesia Baru, Medan)
11. banjarmasin_post@persda.co.id
13. redaksi@serambinews.com (Aceh)
14. koraninvestor@investor.co.id (Investor Daily)
16. sekretariat@republika.co.id
22. redaksi@seputar-indonesia.com
23. redaksi@suarakarya-online.com
24. editor@jawapos.co.id ; editor@jawapos.com
26. newsroom@antara.net.id ; newsroom@antara.co.id
marhaban ya ramadhan
•August 28, 2008 • Leave a CommentAlhamdullillah sudah tiba lagi di pintu ramadhan.
Jadi inget, dulu sering ngabuburit bareng konco-konco kampret! he he he
ada satu pertanyaan canggih:
“Gimana caranya kita tau mana orang puasa, mana yang engga?”
jawabannya:”Yang ga puasa keliatan cuma sebatas betis sampe ujung kaki, laennya ga keliatan!”
Kalo di daerah saya dulu, pertanyaan ini logis dan ilmiah (sok inTELEK) tapi setelah di jakarta ternya ta ga berlaku. Satu lagi ternyata candaan ngabuburit sambil makan kwaci, disini juga berlaku, lho. Rusak-rusak padha!
Moga moga taun ini ga sama kaya dulu-dulu, bukannya tambah parah karena habib FPI masi di dzalimi. Tapi moga-moga jadi lebih bae, lebih banyak yang sadar.
Marhaban ya ramadhan, marhaban ya syahru shiami.
apa kabar?
•July 29, 2008 • 2 CommentsAku masih disini, banyak orang yang telah berlalu, memang kekasihku masih dalam dadaku. kalian yang pernah memandangku apa adanya, terkadang aku merasa rindu dalam malam yang gelap. ruang-ruang kelas tak lagi sama seperti dahulu, ketika mata menatap satu persatu, kehampaan makin tegas terlihat.
Kadang terasa lelah untuk menulis dan berkisah. Entahlah, apakah syaraf-syarafku telah membatu, atau mungkin hanya tak ada inspirasi. Ingin rasanya aku beristirahat dalam keterdiaman yang panjang.
Terfikir pula betapa membosankan menjadi mahasiswa yang “impotensi” entahlah apa yang benar, dalam fikirku, mereka yang mengaku mahasiswa haruslah menjadi pelumas perubahan atau bahkan revolusi, kalau perlu. Tapi mengapa? entahlah…
INILAH PENGORBANANKU!
•June 9, 2008 • 5 CommentsTpak-tapak cahaya belum berlalu ketika semburat awan merah merebak dibatas pandang.
Terik dan peluh menemani hari ku yang berarak berlalu.
Seorang prajurit tanpa senjata tersenyum ketika menyerahkan jiwanya dalam dekapan malam.
Desiran darah dan regangan urat syaraf menjadi hadiah terindah bagi dunia, hari ini, esok, dan hari-hari dihadapan matanya.
Semuanya terlukis dalam kanvas bayang-bayang layaknya harmoni kehidupanyang berirama agung.
Sang prajurit berteriak dalam keheningan “INILAH AKU DAN PENGORBANANKU!! Wahai dunia, terimalah jasadku dengan dekapanmu yang terdalam, beriring seringai kebanggaan manusia.”
menunggunya
•June 9, 2008 • Leave a CommentTidak ada manusia satu pun yang tahu kapan datangnya akhir kehidupan.
Tidak pula ada yang tahu siapa dirinya seutuhnya.
Berlalunya mentari dan rembulan bukan kuasa manusia, tidak pula berlalunyanafas dan jiwa. Cahaya dalam gelap malam begitu melankolis, mengajak degup jantung berdentam dalam iringan senandung jalanan.
Entahlah, kadang perjalanan begitu hambar, kadang membuat enggan berlalu.
Iring-iringan butiran air berlarian menuju samudera dalam sorak sorai penuh canda.
Apakah mereka juga sadar bahwa menguap kapanpun dapat terjadi pada dirinya.
Perputaran ruji-ruji hidup sungguh tak terduga. Lantas untuk apakah sebenarnya hidup jika menunggu mati semata.
Beruntunglah mereka yang usianya bermakna, beruntunglah mereka ang tersenyum dalam matinya.
Kepergian mereka menyeret jiwa-jiwa yang rindu pada kebenaran.
Senandung-senandung malam itu memanggulku lagi, mungkin sudah tiba waktunya aku mati…


Rumpian Tetangga