Bolehkah saya mentertawakan yang tertawa???
Kalaulah boleh maka saya akan tertawa, bila tidak maka saya akan tertawa cukup dalam hati saja.
anda mungkin bertanya mengapa saya bertanya demikian! Membingungkan memang, apalagi bagi anda yang tak menghadapi masalah dalam interaksi pemikiran.
Saya ingin berbicara terlebih dahulu tentang sebuah analogi yang membuat hati saya terbahak, mungkin anda juga. Terkadang kita terlihat lebih bodoh ketika menertawakan orang yang bodoh, tapi tak apalah sesekali.
Ada seorang teman yang sangat mengidamkan sebutir kelapa. Ia tak memiliki pohon kelapa, tak juga punya uang untuk membelinya. Lantas ia meminta kepada seorang pemilik pohan kelapa. Sang pemilik berkata “Ambillah! Semaumu!”
“Smauku, Tuan?!” dia membalas
“Ya, semaumu! Tapi kelapa masih ada di pohonnya!”
Teman saya ini tak berbuat apapun untuk mendapatkan kelapa itu, ia hanya terus meminta dan si pemilikpun menjawabnya dengan jawaban yang sama setiap ia meminta.
Apa yang terjadi jika sang pemilik pohan itu adalah anda?
mungkin anda akan berkata, “Orang ini tak serius dalam meminta” atau “Orang ini mungkin ada gangguan di kepala, minta terus, sudah dikasih tak mau mengambil.”
mungkin itu yang akan anda ungkapkan.
Ada lagi seseorang yang lain, orang ini tak begitu pandai daalam merayu dan berbicara dalam meminta. tapi dia sadar betul bahwa kelapa itu sangat ia butuhkan bahkan ia sudah rencanakan, akan di apakan kelapa yang ia dapatkan itu kelak. Ia meminta dengan diplomasi yang gak begitu oke.:)
lalu si pemilik mengizinkan walau tak sama perlakuannya dengan teman saya.
Orang yang kedua ini, memanjat dengan penuh semangat, keringat membasahi tubuhnya, baju yang ia pakai compang-camping, luka baret di tangan kanan dan kirinya dan sebagainya. Dia sudah hendak mencapai puncak dan memetik kelapa.
Tahukah anda apa yang dikatakan teman saya? Dia menertawakannya! dengan suara yang menggelegar.
Saya tahu ada rasa sakit hati dalam dada orang yang memanjat pohon itu, saya tahu dia tersinggung. Namun dia tidak menumpahkan kekesalannya, dalam hatinya hanya mengazzam “Lihatlah kelak apa yang akan aku dapatkan!”
Pernah pula ia bertanya apakah teman saya ini benar-benar meginginkan kelapa? Namun dalam benaknya ia berkata “Entahlah, biarkan saja!”
Tahukah mengapa saya menulis ini? Tahukah?
Tahukah anda siapa yang memanjat kelapa dan siapa yang mentertawakannya?….
saya akan mengupas tuntas semuanya di edisi berikutya. he he he he
Rumpian Tetangga